Pendaftaran Santri dan Santriwati Baru 2020

A. ALUR PENDAFTARAN SANTRI BARU

  1. Mengisi formulir pendaftaran di  https://forms.gle/jJBk54xTqnUxok4cA
  2. Menyelesaikan administrasi via transfer ke rekening Mandiri 1360088995599 (A.n Yayasan Edi Mancoro) dan konfirmasi pembayaran ke 085876079519
  3. Pendaftar bersama orang tua/wali datang ke kantor BLK menemui Panitia Pendaftaran
  4. Sowan Kiai.
  5. Penempatan Kamar
  6. Tes KDII
  7. Sosialisasi Kepesantrenan dan Kelembagaan

B. KETENTUAN SANTRI

  1. Beriman kepada Allah SWT
  2. Mendapatkan Izin dari Orangtua
  3. Tidak menghadapi masalah hukum
  4. Mengikuti program khidmah/ pengabdian
  5. Bersedia mengikuti tata-tertib pondok pesantren
  6. Bersedia mengikuti tes
  7. Diperbolehkan Melakukan perizinan pulang setelah 40 hari menetap di pondok

C. SYARAT PENDAFTARAN

  1. Fotocopy KTP (1 lembar)
  2. Fotocopy KK (1 lembar)
  3. Foto Background Merah 3×4 (3 lembar)
  4. Mengisi Formulir Pendaftaran 
  5. Menyelesaikan Administrasi
  6. Mengisi Surat Pernyataan (File Bisa di Dwonload dibawah ini)
    a. Surat Pernyataan Santri
    https://bit.ly/2AqAZu0
    b. Surat Pernyataan Wali Santri
    https://bit.ly/2UDi5qL
    c. Surat Pernyataan Pengabdian
    https://bit.ly/3dVQhpi

D. BIAYA PENDAFTARAN

  1. Santri Baru
    Biaya Administrasi Rp   50.000
    Sarana Prasarana Rp 300.000
    Infaq Rp 500.000
    Syahriyah Rp 125.000
    Registrasi KDII Rp 100.000
    Perpustakaan Rp   50.000
    KTS Rp   15.000
    Kalender          2021 Rp   25.000
    Kesehatan  Rp   15.000
    Jaz Almamater Rp 175.000
    Simpanan Wajib Koppontren Rp   10.000
    Pembuatan Buku Doa Rp   15.000
    Majalah                        Rp  25.000
    TOTAL Rp  1.405.000
  2. Santri Lama
    KDII Rp   75.000
    Syahriyah Rp 125.000
    Kalender          2021    Rp   25.000
    Kesehatan Rp   15.000
    Majalah Rp  25.000
    TOTAL Rp 265.000

E. BIAYA BULANAN

Syahriyah Pondok Rp 125.000

Corona dan Sosial Santri: Pengaruh Covid-19 terhadap Sosial Santri Edi Mancoro

Oleh: Siti Fatimah

Ratusan Santri Dipulangkan

Ratusan santri Edi Mancoro terpaksa harus dipulangkan ke rumah masing-masing. Hal ini dilakukan sebagai upaya pencegahan penyebaran virus corona. Mengingat jumlah orang berstatus positif terkena virus corona di Jawa Tengah semakin meningkat. Perpulangan santri Edi Mancoro dimulai sejak Minggu (29/4). Keputusan ini berdasarkan keputusan pengasuh beserta pimpinan lembaga pondok. Para santri harus dijemput orang tuanya, dilarang menggunakan transportasi umum dan tidak boleh mampir-mampir. Orang tua atau wali yang menjemputpun tidak boleh masuk area pondok, cukup di titik penjemputan serta dilakukan penyemprotan disinfektan kepada kendaraan-kendaraan penjemput. Namun beberapa santri tidak boleh pulang  yakni yang daerahnya sudah masuk zona merah, Kamis (26/4/2020), “lebih baik di pondok saja, untuk saat ini kalian mending mementingkan diri sendiri dulu jangan orang lain”, dawuh  Kiai Hanif selaku pengasuh.

Sebelum pulang seluruh santri juga diwajibkan bersih-bersih pondok secara massal, diantaranya seluruh peralatan tidur di jemur, karpet-karpet dicuci, dan dilakukan penyemprotan disinfektan di area pondok dan sekitarnya. Dalam surat keputusan yang ditandatangani oleh pengasuh, dijelaskan bahwa santri Edi Mancoro kembali masuk pada, Kamis (4 Juni 2020). Selama di rumah, wali santri diharap memantau putra-putrinya untuk melakukan hal-hal positif diantaranya; istighosah bersam keluarga, mengerjakan tugas kuliah online, tadarus al-qur’an, muroja’ah kitab dan hafalan qur’an. Kemudian santri juga dihimbau agar tidak keluar rumah kecuali ada hal penting yang mengharuskan keluar, menjaga pola makan, hidup sehat, serta mengikuti petunjuk-petunjuk kesehatan tentang antisipasi penyebaran virus corona dari puskesmas terdekat.

Penerapan Physical Distancing

Santri yang tidak pulang juga dilarang keluar area pondok jika tidak ada kepentingan, “jika ingin mencari makanan, di sekitar pondok saja, di koperasi pondok atau warung sekitar,” dawuh Kiai Hanif. Semua kebutuhan santri akan disediakan oleh koperasi pondok. Sebelum masuk kamar masing-masing pun diharapkan selalu mencuci tangan terlebih dahulu di kran yang sudah disediakan hand sanitizer. Physical distancing yang diterapkan di pondok pesantren Edi Mancoro tersebut yakni dengan tidak melakukan kontak fisik secara langsung, misalnya bersalaman, tidak berpelukan, menjaga jarak minimal 1 meter, tutup hidung dan mulut ketika batuk & bersin, dilarang menerima tamu. Selain itu wali santri juga dilarang bertamu atau mengunjungi keluarga yang ada di pesantren. Jika keadaan terpaksa menerima tamu, maka harus diadakan pengecekan terlebih dahulu oleh penjaga pondok serta sterilisasi ringan dengan hand sanitizer atau disinfektan. Dilarang pula menerima pengiriman paket dalam bentuk apapun. Apabila terpaksa menerima akan disterilkan dengan disinfektan dan dijemur terlebih dahulu.

Penundaaan dan Pembatalan Acara

Virus corona yang mewabah menimbulkan berbagai masalah kehidupan yang cukup rumit, dan menjadi menakutkan. Meluasnya virus corona ini tidak hanya berdampak pada kesehatan, tempat wisata ataupun tempat ramai yang biasanya dikunjungi wisatawan asing maupun domestik yang mengalami penuruna drastis. Dengan demikian, tidak berbeda dengan acara-acara atau event di Pondok Pesantren Edi Mancoro yang diputuskan untuk dibatalkan atau ditunda akibat virus corona hingga kondisi dan situasu benar-benar aman. Adapun acara-acara besar yang akan diselenggarkan dalam waktu dekat yang  harus dibatalkan yaitu;

  • Festival Banjari se-Jateng & DIY 2020

Festival banjari ini biasanya dilaksanakan sebelum acara haflah atau biasanya akrab disebut dengan acara pra haflah. Dalam akun resmi instagram @ponpes.edimancoro, penyelenggara atau panitia Festival Banjari dengan berat hati mengumumkan pembatalan acara ini, setelah mempertimbangkan kesehatan dan arahan pemerintah agar membatalkan ataupun menunda acara-acara yang mengumpulkan banyak orang. Total ada 36 grup rebana se-Jateng DIY yang mendaftar akan mendapat pengembalian dana. Panitia kembali meminta maaf khususnya untuk 36 grup rebana yang sudah mendaftar. Festival Banjari se-Jateng DIY ini acara pra haflah tahunan, untuk tahun ini seharusnya menjadi penyelenggaraan ketiga yang akan berlangsung pada 1 April 2020 di halaman Pondok Pesantren Edi Mancoro.

  • Lomba anak ceria

Berbagai acara besar Pondok Pesantren Edi Mncoro dibatalkan guna mengantisipasi penyebaran wabah virus corona, termasuk Lomba Anak Ceria 2020, yang seharunya diselenggarakan pada 2 April 2020. Lomba anak ceria merupkan acara tahunan termasuk dalam rangkaian acara pra haflah akhirussanah dan haul Mbah Mahfud Ridwan. Acara ini adalah lomba anak yang diikuti anak TK dan SD se-Kabupaten Semarang untuk mengembangkan bakat mereka. Adapun lomba-lomba yang akan diselenggarakan yaitu lomba mewarnai, menyanyi, lomba hafalan surat pendek, menggambar, da’i cilik, dan kolase. Panitia memutuskan untuk membatalkan acara ini setelah pemerintah mengumumkan larangan mengadakan event di Indonesia.

  • Bazar

Sekitar 14 pendaftar peserta Bazar di Edi Mancoro resmi dibatalkan. Batalnya acara tersebut setelah pemerintah mengeluarkan statement untuk tidak membuat acara yang sifatnya mengumpulkan banyak orang demi mencegah penyebaran virus corona. Awalnya acara bazar ini juga akan berlangsung  selama 3 hari yakni selama festival dan lomba-lmba berlangsung serta pada puncak acara haflah akhirusanah pada 1-3 April 2020. 

Adapun acara Haflah Akhirussanah dan Haul Mbah Mahfud Ridwan ditunda sampai batas waktu yang belum ditentukan, mengingat virus corona di Jawa Tengah khususnya daerah Semarang semakin meningkat. Acara ini sudah disiapkan lebih dari 4 bulan lamanya, namun dengan berat hati pengasuh pondok pesantren Edi Mancoro mengeluarkan surat keputusan untuk menunda acara ini. Penundaaan acara tersebut atas dasar rapat terbatas antara pengasuh, asatidz, pimpinan lembaga dan panitia haflah tentang antisipasi meluasnya wabah virus corona.

Santri, Bagaimana Kabarmu ?

Oleh: Mubasir Anwar

Santri…

Masihkah kau bangga dengan sarung dan pecimu

Yang filosofinya selalu mewarnai setiap langkah kakimu

Ataukah seperti yang lainnya

Menganggap sarung dan peci sebagai budaya kaum terbelakang

Lebih bangga dengan pakaian minim kebarat-baratan

Santri…

Masihkah sisa air minum gurumu

Kau perebutkan dengan temanmu

Sebagai wasilah mendapatkan barokah sang guru

Ataukah seperti yang lainnya

Barokah dianggap sebagai hal yang tabu

Logika dan keangkuhan kau jadikan guru

Santri…

Masihkah kau tundukkan wajah di depan gurumu

Masihkah kau cium tangan gurumu saat bertemu

Sebagai wujud ta’dzim pada sang guru

Ataukah seperti yang lainnya

Menganggap guru hanyalah orang biasa

Guru bukanlah orang yang istimewa

Tiada rasa hormat bahkan tega mencelanya

Santri…

Masihkah kau sungkan menempati tempat duduk gurumu

Masihkah kau merasa tak pantas berdiri di tempat pengimaman gurumu

Ataukah seperti yang lainnya

Tak ada rasa sungkan pada sang guru

Kau anggap sang guru tak ada bedanya dengan dirimu

Santri…

Masihkah Al-Qur’an selalu kau baca dan kau hayati

Masihkah bait-bait nadzom alfiyah dan imriti

Senantiasa kau lalar dan kau pahami

Ataukah seperti yang lainnya

Terbuai indahnya ayat-ayat status dan story

Bait-bait cinta dari ajnabiy

Kau anggap sebagai kalam-kalam penenang hati

Santri…

Masihkah rasa nasionalisme besemayam di hatimu

Masihkah kau anggap Indonesia sebagai rumahmu

Ataukah seperti yang lainnya

Seperti preman-preman demokrasi

Tiada rasa tulus dalam membangun negeri

Haus kekuasaan dan pengabdi kepentingan pribadi

Santri, bagaimana kabarmu?

Women Inspiring

Doc. Google

By Yesy Ashriati A

In At-Tahrim verse 111, Allah reminds us to learn from the stories of previous people. Much history is carved and much wisdom can be taken. One of them is about the role of women in Islamic history.

Since the beginning of time until now, women have always played an important role in it. Rows of noble names such as Khadijah, Aisyah, Ḥafṣah, Asma, and others, incised gold from the gold of Islamic civilization. They set a great example of devotion to religion, which continues to this day on every side of worship, both in terms of worship, sacrifice, scientific treasures, and creating a “heavenly generation” through the formation of their gentle hands.

History records, how Khadijah r.a became a perfect description of a pious wife, she was the first woman to embrace Islam and sacrifice all her wealth and life for the Prophet saw. Becomes a reinforce when the first revelation comes down, and who is always faithful to accompany both in good times and difficult times. Including, when facing a period of an extreme boycott.

Muslim women are also ready to be at the forefront in the compilation of sacrifices in the echo. Apart from the physical, material and thought aspects in various discussions, describing Muslim women is very much needed to study. They begged Rasulullah to see. Can make time for them. Aisyah r.a. is a reflection of Muslim women are intelligent and knowledgeable individuals. One of Aisyah’s habits was her great curiosity. This habit makes her the only woman who is the most widely traded narrator.

Apart from the Arabian peninsula, the country of the prophets is no less tough women who will be educated from the country by collecting the island with the largest Muslim population, namely Indonesia. One of them is R.A Kartini, her name is no longer earned by the people of Indonesia. R.A Kartini was a pioneer who represented the women of his time, starting from his penchant for reading newspapers and magazines and books given by his questioners in the Netherlands. He began to open about discussing the feminism that was developing in Europe at that time. He talked about the problem of Indonesian women who discussed rights, freedoms, autonomy, and equality before the law.

Aside from Kartini, there is a figure who attracts attention and inspires women today, she is Nadwa Shihab, a smart and critical woman, acknowledging that Najwa’s professionalism does not only come from within the country, but also from abroad. Mata Najwa became one of Metro TV’s flagship programs that won Najwa’s criticism and intelligence when talking with prominent figures.

In addition to R.A Kartini and Najwa Shihab, there are still many more female figures who are tough and care about their education. Women are ummahatul and also ummahatul u’la. And, easily becomes easy. A woman must have the following characters:

– has a deep faith.

– have an understanding.

– has a hardiness mentality.

– have adequate intellect.

– has strong physical endurance.

So, with all these things a woman will be able to become a figure who can carve achievements in history. Like the ummahatul mu’minin and other Muslim women inspiration.

Sumber: https://initu.id/biografi-singkat-najwa-shihab/

Membaca Bencana

Oleh: Muhammad Nur Wafa Lutfi

“Tiada daun yang jatuh dari tangkainya, Kecuali atas izin Allah Yang Maha Kuasa” Sepatah Nasehat dari Kiaku 3 tahun yang lalu membuatku tersadar, bahwa semua yang terjadi di dunia ini, tidak lepas dari kehendak-Nya.  Tetapi bukan lantas kita seenaknya menyalahkan Tuhan disaat hal yang tidak kita inginkan menimpa kita, perlu adanya muhasabah atau introspeksi diri.

Ada pepatah berbunyi rajin pangkal pandai, namun belum tentu orang yang tidak rajin menjadi bodoh, walaupun banyak orang rajin menjadi pandai, begitu pula sebaliknya. Kita hanya bisa berusaha, masalah hasil itu mutlak kehendak-Nya. Karena baik menurut kita belum tentu baik dihadapan Allah, serta buruk menurut kita belum tentu buruk dihadapan Allah. Allah memberi apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.

Berbicara mengenai bencana, kalau kita mau berfikir lebih dalam, akan muncul pertanyaan, sebenarnya apa hakekat bencana? Apakah banjir? Tsunami? Gunung meletus? Pandemi Covid-19 yang akhir-akhir ini melanda dunia? Atau segala yang menyebabkan kerugian bagi manusia layak di sebut bencana? Maka kita akan bertanya-tanya sebenarnya apa itu bencana?. Misal salah satu dari bencana saat ini, yaitu pandemi Covid-19, ribuan bahkan puluhan ribu umat manusia direnggut nyawanya, alhasil sekolah-sekolah di tutup, beberapa Negara melakukan lockdown, ekonomi dunia kacau. Padahal tak lain dan tak bukan bahwa pandemi tersebut juga mahkluk ciptaan Allah dan Allah menghendaki ini terjadi. Apakah ini tetap disebut bencana?

Lalu siapa yang menyebut pandemi ini bencana? Ialah manusia yang mempunyai kepentingan, yang kemudian berbenturan kepentingannya dengan kehadiran pandemi tersebut. Tapi apakah pantas pandemi itu sendiri dikatakan bencana? Tidak. Jadi sekarang kalau kita berbicara bencana, atau berbicara apa saja, semua idiom-idiom itu harus dipikirkan kembali hakikatnya.

Bahkan kalau kita mau berendah hati,  sesungguhnya di dunia ini tidak ada yang namanya bencana. Banjir misalnya, ini bukan bencana, karena sifat air adalah mencari tempat yang lebih rendah. Jadi kalau manusia tidak ingin kebanjiran, ya jangan buat permukiman di daerah aliran sungai, di tempat yang lebih rendah, selain itu kecerobohan manusia, dengan mengambil air tanah secara semena-mena, sehingga mengakibatkan penurunan tanah atau menebang pohon dan membakar hutan sekehendak hati. Gunung meletus juga merupakan sunatullah. kalau tidak mau rumahnya terkena lahar panas, ya jangan mendirikan rumah di lereng gunung berarpi.

Jelas bahwa alam semesta ini diciptakanNya sedemikian rupa untuk kesejahteraan hambaNya. Masalahnya hamba tersebut banyak lalai dan ingkar. Manusia banyak yang melawan “sunatullah”. Sudah tahu bahwa kompor menyala itu panas, masih juga nekad diduduki. Bagi mereka yang “sok islami”, malahan menantang dan berbekal doa Nabi Ibrahim. Tentu saja Allah akan tersenyum, “Kita telah berbagi tugas”, kata Allah. Aku menciptakan hutan (kata Allah), kamu manusia silakan buat kursi, tapi jangan kamu rusak alam ini.

Karenanya untuk menghindari bencana, jangan melawan sunatullah, apalagi setelah itu mengkambing hitamkan Allah, atau setidaknya GR bahwa Allah sedang menguji (padahal Allah meng-azab-nya). Kalau kita rajin menebangi hutan sembarangan, jangan kemudian bilang Allah menguji kita manakala banjir bandang datang.

Maka kita perlu wawasan yang baik mengenai mitigasi bencana, tidak hanya ketika sudah terserang bencana tetapi jauh sebelum bencana itu terjadi. Kita harus bisa berfikir agar bagaimana bencana ini tidak menimpa kita walaupun bukan berarti kita bisa terbebas dari bencana. Setidaknya kita sudah berusaha misalnya tidak merusak hutan dengan menebang pohon tanpa reboisasi atau membuang sampah sembarangan. Walaupun bukan berarti karena itu semua menjadi kita terhindar dari bencana, atau mitigasi bencana yang kita alami saat ini, yaitu pandemi Covid-19 dengan segala upaya pencegahannya. Maka manusia harus menaati himbauan pemerintah agar tidak keluar dari rumah, menjaga kebersihan, menjaga kesehatan serta social distancing untuk menghindari percepatan persebaran pandemi ini. Sebagai usaha agar tidak ikut terserang oleh pandemi Covid-19 dan kita tidak boleh menentang atau pasrah, berbekal bahwa pandemi ini ciptaan Allah, tidak mempedulikan himbauan pemerintah tentang itu semua. Beranggapan bahwa pandemi ini tidak akan menyerang kita jika Allah berkehendak, sama halnya kita masuk kandang macan, ini sama saja kita melawan sunatullah. Maka semua upaya pencegahan tadi perlu kita lakukan, jangan menghindari bencana dengan melawan sunatullah.

Dari sini dapat saya simpulkan bahwa kita perlu mitigasi atau usaha upaya-upaya pencegahan suatu bencana, sebab kita sebagai manusia hanya bisa berusaha, dan berdo’a. Allah tetap akan melihat bagaimana usaha dari seorang hambanya karena “Sesungguhnya Allah Tidak Akan Mengubah Keadaan Suatu Kaum, Sebelum Kaum Itu Sendiri Mengubah Apa Yang Ada Pada Diri Mereka”. Dan jangan lupa bahwa Allah memiliki sifat Kodrat sehingga kita tidak bisa memaksa Allah agar sesuai apa yang kita inginkan dan pikirkan.

Kab. Semarang, 27 Maret 2020

Pantura Interfaith Journey

Gedangan, EM Pers- Madrasah Damai Pati mengadakan kegiatan Pantura Interfaith Journey selama dua hari melibatkan puluhan aktivis muda pegiat lintas iman dari berbagai daerah di Indonesia. Pada kesempatan ini, para aktivis pegiat lintas iman ikut serta dalam dialog bersama pegiat lintas iman yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Edi Mancoro.

Para aktivis ini datang dari berbagai kota di Indonesia seperti Jayapura, Madura, Surabaya, Yogya, Salatiga, Semarang, Jakarta, Tasikmalaya dan berbagai komunitas lintas iman di Pati. Dialog pegiat lintas iman kali ini diisi oleh Gus Muhamad Hanif pengasuh Pondok Pesantren Edi Mancoro, Pendeta Izak Lattu Salatiga dan Nyai Kamilia Hamidah Direktur Madrasah Damai Pati.

Nyai Kamalia Hamidah, direktur Madrasah Damai dalam pemaparan materinya menyampaikan untuk tidak bersikap intoleran terhadap sesama. “Yang menjadikan seseorang intoleran bukan karena latar belakang pendidikan, namun karena mereka tak terbiasa dengan perbedaan, jika kita mengakui akan adanya persamaan, maka tak ada alasan untuk menghindar dari perbedaan,” tuturnya, Sabtu (22/2/2020).

Izak Lattu, pendeta Salatiga mengungkapkan bahwa setelah acara lintas iman selesai harus ada follow up di medsos. “Setelah terselenggaranya acara ini peserta harus ikut serta untuk memberikan follow up di medsos, dengan menguplod kegiatan lintas iman, guna untuk mengcounter narasi disintegrasi yang banyak tersebar di medsos,” ujarnya.

Peserta Pantura Interfaith Journey merasa senang dapat berbaur dengan santri Ponpes Edi Mancoro, mereka begitu menikmati setiap materi yang disampaikan oleh pemateri.

Gus Hanif, pengasuh Pondok Pesantren Edi Mancoro berpesan kepada peserta Pantura Interfaith Journey untuk selalu menjaga perdamaian. “Krisis kasih sayang menjadi salah satu penyebab konflik antar agama, maka dari itu kita harus menumbuhkan kasih saying untuk menjaga perdamaian antar umat beragama,” ungkap beliau. (TBF)

Pendaftaran Baru SD Unggulan Edi Mancoro

Untuk Pendaftaran Online Klik Tantuan di Bawah Ini :

https://forms.gle/sC9fedow3VDCtSoF9A

  1. Visi dan Misi

VISI

“UNGGUL DALAM SPIRITUAL, INTELEKTUAL, DAN BERPRESTASI SERTA BERWAWASAN QUR’ANI”

MISI

  1. Membentuk peserta didik yang berkarakter, dinamis dalam pengembangan nilai spiritual dan Intelektual.
  2. Mengembangakan dan membentuk keperibadian peserta didik untuk memajukan berbagai potensi diri pesrta didik, baik akademik maupun non akademik.
  3. Memupuk benih jiwa kemandirian, toleransi dan cinta tanah air. Membekali peserta didik dengan berbagai pengetahuan baik akademik maupun non akademik.
  4. Mendampingi peserta didik dalam belajar Al-Qur’an serta menghafalkannya
  • Kurikulum

Sistem pembelajaran yang diterapkan di SD Unggulan Edi Mancoro mengacu pada kurikulum 2013 Kementrian Pendidikan dan Kementrian Agama yang dipadukan dengan kurkulum sekolah yang memuat pendidikan islam dengan sistem pendidikan khas tradisi pesantren.

  • Waktu Pendaftaran

Waktu Pendaftaran     : 15 Januari 2020-15 Juli 2020

Jam                              : 08.00-14.00

Hari                              : Senin- Sabtu

Tempat                      : Kantor SD Unggulan Edi Mancoro

Contact Person    : Anida (085727743334)

                                      Fauzi  (085729617347)

  • Syarat Pendaftaran
  • Foto 3 x 4 backgroumd merah ( 3 lembar)
  • Foto Copy Ijazah TK/RA (menyusul)
  • Foto copy KK
  • Foto copy KTP orang tua
  • Foto copy Akta Kelahiran
  • Mengisi formulis pendaftaran
  • Usia Calon peserta didik ≥ 6,3 tahun
  • Biaya Pendaftaran
1 Pendaftaran Rp. 100.000
2 Infaq Rp. 300.000
Rp. 500.000
> Rp. 500.000
3 SPP Rp. 255.000
4 Seragam
– Putra Rp. 340.000
– Putri Rp. 400.000
5 Buku Rp. 400.000
6 Kalender Rp. 25.000

*Seragam

  • 1 Stel baju identitas
  • 1 stel baju olahraga
  • 1 stel baju diniyah

** untuk seragam merah putih dan pramuka tidak

Rincian SPP

Makan SPP Total
100.000 155.000 255.000


  • Ekstrakurikuler       
1. Pramuka
2. Kesenian :
a. Khot/Kaligrafi
b. Rebana
c. Tilawah
d. Seni Musik
e. Seni Tari
3. Olahraga :
a. Badminton
b. Sepakbola
c. Futsal
d. Catur
e. Takraw
4. Komputer
  • Kegiatan Harian
1. Pembiasaan Pagi
Asma’ul Husna
Tahfidz Juz Amma
Tahsin metode Ummi
Language Day
2. Pembiasaan Siang
Sholat Dzuhur Berjama’ah
Imla’
Madrasah Diniyah
  • Program Unggulan
1. Manasik Haji
2. Outing Class
3. Tadabbur Alam
4. Madrasah Diniyah
5. Bilingual
6. Tahfidz Juz 30
  1. Fasilitas
1. Sarana Ibadah
2. Perpustakaan
3. Media Audio dan Visual
4. Aula / Ruang Serbaguna
5. Laboratorium Komputer
6. Lapangan Olahraga

Pembukaan Harlah Ponpes Edi Mancoro Ke-30

Gedangan, EM Pers- Pembukaan peringatan Hari Lahir (Harlah) Ponpes Edi Mancoro yang ke-30, mengambil tema “Membumikan Nila-nilai Khodimul Ummah sebagai Komitmen Pesantren dalam Menjaga NKRI”. Pembukaan harlah ini berlangsung di Aula Ponpes Edi Mancoro.

Pembukaan harlah Ponpes Edi Mancoro yang ke-30 berlangsung dengan khidmat. Seluruh santri berantusias mengikuti acara pembukaan tersebut.

Ketua panitia harlah, Ita Nazla menyampaikan, rangkaian acara dalam menyambut harlah Ponpes Edi Mancoro yang ke-30 berlangsung dari 26-31 Desember 2019. “Rangkaian acara harlah dimulai dengan Pembukaan dan Stand Up Comedy (26/12), Ziarah Pulutan (27/12), Lomba Keterampilan (28/12), Lomba Futsal antar Kelas (29/12), Lomba Karoke (30/12) dan Puncak Harlah (31/12),” ujar Ita, Kamis (26/12/2019).

“Wujud syukur ini tidak hanya dimeriahkan dengan berbagai macam perlombaan, tapi sekaligus kesyukuran itu harus diwujudkan dalam meningkatkan kualitas diri, tidak hanya kualitas dalam hal akademiknya saja, tetapi juga dari hal-hal yang lain,” ujar K.H Muhamad Hanif selaku pengasuh Ponpes Edi Mancoro saat pembukaan harlah Ponpes Edi Mancoro yang ke-30.

Beliau juga secara langsung membuka kegiatan rangkaian harlah. “Dengan mengucap Bismillaahir rohmaanir rohiim rangkaian kegiatan harlah resmi dibuka, semoga  berjalan lancar tanpa halangan apapun,” yang disambut dengan tepuk tangan para santri.

Dilanjut dengan lomba Stan Up Comedy antar kamar. Perlombaan ini berlangsung dengan meriah serta mengundang tawa dari para penonton. “Stand Up Comedy ini sangat menghibur, aksi para komika yang lucu disertai pembawa acara yang lucu juga, dapat mengundang tawa dari para penonton,” kata Tegar selaku penonton. (Thoriq)

Peringati Hari Jadi yang Ke-3, Laziskaf Edi Mancoro adakan Seminar Wakaf

EM Pers, Kab. Semarang- Laziskaf Edi Mancoro mengadakan seminar wakaf, untuk memperingati 3 tahun hari jadi mereka. Seminar kali ini bertemakan “Optimalisasi Wakaf dalam Membantu Perekonomian Umat” bertempat di Aula Ponpes Edi Mancoro, Jum’at (20/12/2019) Pagi.

Seminar wakaf ini diikuti oleh 160 peserta serta beberapa tamu undangan. Selaku morderator yang memandu jalannya seminar adalah Thoriq Baihaqi Firdaus, pemateri pada seminar kali ini diisi oleh Endang Sriani, S.H.I., M.H.

Pemateri, Endang Sriani menyampaikan, wakaf dapat menjadi sumber utama pemberdayaan masyarakat. “Ada empat poin penting dalam memperdayakan ekonomi melalui wakaf yakni pemberdayaan ekonomi komunitas, pemberdayaan pendidikan, pemberdayaan kesehatan, dan pemberdayaan sosial,” kata Endang.

Beliau juga berpesan, agar masyarakat dapat sadar akan pentingnya gerkan wakaf. “Dan perlu kita tau bahwa negara kita adalah negara dengan jumlah umat islam terbesar, jadi dengan wakaf kita dapat berpotensi dan memiliki asset sangat besar yang dapat dimanfaatkan bagi umat yang membutuhkan, marilah jadikan wakaf sebagai puncak kedermawanan kita dalam memperlakukan harta,” pungkas Endang dalm seminar wakaf ini. (Mir’atul Hayati)

Pelepasan Santri Kelas Ulya untuk Mengikuti Program Ijtima’iyyah

EM Pers, Kab. Semarang- Pelepasan santri kelas Ulya program Ijtima’iyah Kuliyyatu ad-Dirosah al-Islamiyah wa al-Ijtima’iyyah (KDII) Pondok Pesantren (Ponpes) Edi  Mancoro di Aula Ponpes Edi Mancoro, Sabtu (23/11/2019) Malam.

Program Ijtima’iyyah tersebut diikuti sebanyak 48 santri kelas Ulya yang dibagi menjadi 8 kelompok. Adapun pelaksanaan program Ijtima’iyyah berada di tiga kecamatan yaitu Banyubiru, Getasan dan Tuntang. Kecamatan Banyubiru berada di dusun Kemambang, Puwono dan Nglembu, kecamatan Getasan berada di dusun Batur, Thekelan dan Nglelo, kecamatan Tuntang berada di dusun Dampit dan Rembes.

Ketua panitia program Ijtima’iyyah, Saefudin as-Syafi’I menyampaikan salah satu syarat kelulusan KDII dengan mengikuti program Ijtima’iyyah. “Ijtima’iyyah Ponpes Edi Mancoro adalah salah satu syarat wajib kelulusan, untuk tahun ini program Ijtima’iyyah dilaksanakan selama dua minggu yang dimulai 24 November sampai 8 Desember 2019,” kata Saefudin.

Pengasuh Ponpes Edi Mancoro, K.H Muhamad Hanif, M.Hum dalam sambutannya menuturkan selain dengan mengikuti program Ijtima’iyyah, santri juga harus membuat Karya Tulis Ilmiah (KTI) sebagai sayarat kelulusan. “Cita-cita besar KDII diantarannya adalah mewujudkan program pengabdian dimasyarakat serta membuat KTI, semua muaranya adalah sebagai proses untuk mendewasakan diri serta mematangkan ilmu yang sudah didapat dari kajian yang ada,” tutur K.H Muhamad Hanif

Beliau juga secara langsung melepas para santri untuk mengikuti program Ijtima’iyyah. “Dengan mengucap Bismillaahir rohmaanir rohiim santri kelas Ulya resmi dilepas ketempat masing-masing,” yang disambut dengan tepuk tangan para santri.

“Anda diterjunkan dimasyarakat sekaligus membawa nama baik almamater yang kita cintai. Maka jaga sikapmu, jaga prilakumu, berikanlah yang terbaik, berbuatlah secara total,  mengabdilah secara total ditempat yang anda tuju semua, insyaallah manfaat akan selalu mengikuti atas usaha yang anda lakukan selama menjalankan program Ijtima’iyyah,” pesan K.H Muhamad Hanif kepada para santri kelas Ulya dalam sambutannya. (Thoriq)