Membaca Bencana

Oleh: Muhammad Nur Wafa Lutfi

“Tiada daun yang jatuh dari tangkainya, Kecuali atas izin Allah Yang Maha Kuasa” Sepatah Nasehat dari Kiaku 3 tahun yang lalu membuatku tersadar, bahwa semua yang terjadi di dunia ini, tidak lepas dari kehendak-Nya.  Tetapi bukan lantas kita seenaknya menyalahkan Tuhan disaat hal yang tidak kita inginkan menimpa kita, perlu adanya muhasabah atau introspeksi diri.

Ada pepatah berbunyi rajin pangkal pandai, namun belum tentu orang yang tidak rajin menjadi bodoh, walaupun banyak orang rajin menjadi pandai, begitu pula sebaliknya. Kita hanya bisa berusaha, masalah hasil itu mutlak kehendak-Nya. Karena baik menurut kita belum tentu baik dihadapan Allah, serta buruk menurut kita belum tentu buruk dihadapan Allah. Allah memberi apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.

Berbicara mengenai bencana, kalau kita mau berfikir lebih dalam, akan muncul pertanyaan, sebenarnya apa hakekat bencana? Apakah banjir? Tsunami? Gunung meletus? Pandemi Covid-19 yang akhir-akhir ini melanda dunia? Atau segala yang menyebabkan kerugian bagi manusia layak di sebut bencana? Maka kita akan bertanya-tanya sebenarnya apa itu bencana?. Misal salah satu dari bencana saat ini, yaitu pandemi Covid-19, ribuan bahkan puluhan ribu umat manusia direnggut nyawanya, alhasil sekolah-sekolah di tutup, beberapa Negara melakukan lockdown, ekonomi dunia kacau. Padahal tak lain dan tak bukan bahwa pandemi tersebut juga mahkluk ciptaan Allah dan Allah menghendaki ini terjadi. Apakah ini tetap disebut bencana?

Lalu siapa yang menyebut pandemi ini bencana? Ialah manusia yang mempunyai kepentingan, yang kemudian berbenturan kepentingannya dengan kehadiran pandemi tersebut. Tapi apakah pantas pandemi itu sendiri dikatakan bencana? Tidak. Jadi sekarang kalau kita berbicara bencana, atau berbicara apa saja, semua idiom-idiom itu harus dipikirkan kembali hakikatnya.

Bahkan kalau kita mau berendah hati,  sesungguhnya di dunia ini tidak ada yang namanya bencana. Banjir misalnya, ini bukan bencana, karena sifat air adalah mencari tempat yang lebih rendah. Jadi kalau manusia tidak ingin kebanjiran, ya jangan buat permukiman di daerah aliran sungai, di tempat yang lebih rendah, selain itu kecerobohan manusia, dengan mengambil air tanah secara semena-mena, sehingga mengakibatkan penurunan tanah atau menebang pohon dan membakar hutan sekehendak hati. Gunung meletus juga merupakan sunatullah. kalau tidak mau rumahnya terkena lahar panas, ya jangan mendirikan rumah di lereng gunung berarpi.

Jelas bahwa alam semesta ini diciptakanNya sedemikian rupa untuk kesejahteraan hambaNya. Masalahnya hamba tersebut banyak lalai dan ingkar. Manusia banyak yang melawan “sunatullah”. Sudah tahu bahwa kompor menyala itu panas, masih juga nekad diduduki. Bagi mereka yang “sok islami”, malahan menantang dan berbekal doa Nabi Ibrahim. Tentu saja Allah akan tersenyum, “Kita telah berbagi tugas”, kata Allah. Aku menciptakan hutan (kata Allah), kamu manusia silakan buat kursi, tapi jangan kamu rusak alam ini.

Karenanya untuk menghindari bencana, jangan melawan sunatullah, apalagi setelah itu mengkambing hitamkan Allah, atau setidaknya GR bahwa Allah sedang menguji (padahal Allah meng-azab-nya). Kalau kita rajin menebangi hutan sembarangan, jangan kemudian bilang Allah menguji kita manakala banjir bandang datang.

Maka kita perlu wawasan yang baik mengenai mitigasi bencana, tidak hanya ketika sudah terserang bencana tetapi jauh sebelum bencana itu terjadi. Kita harus bisa berfikir agar bagaimana bencana ini tidak menimpa kita walaupun bukan berarti kita bisa terbebas dari bencana. Setidaknya kita sudah berusaha misalnya tidak merusak hutan dengan menebang pohon tanpa reboisasi atau membuang sampah sembarangan. Walaupun bukan berarti karena itu semua menjadi kita terhindar dari bencana, atau mitigasi bencana yang kita alami saat ini, yaitu pandemi Covid-19 dengan segala upaya pencegahannya. Maka manusia harus menaati himbauan pemerintah agar tidak keluar dari rumah, menjaga kebersihan, menjaga kesehatan serta social distancing untuk menghindari percepatan persebaran pandemi ini. Sebagai usaha agar tidak ikut terserang oleh pandemi Covid-19 dan kita tidak boleh menentang atau pasrah, berbekal bahwa pandemi ini ciptaan Allah, tidak mempedulikan himbauan pemerintah tentang itu semua. Beranggapan bahwa pandemi ini tidak akan menyerang kita jika Allah berkehendak, sama halnya kita masuk kandang macan, ini sama saja kita melawan sunatullah. Maka semua upaya pencegahan tadi perlu kita lakukan, jangan menghindari bencana dengan melawan sunatullah.

Dari sini dapat saya simpulkan bahwa kita perlu mitigasi atau usaha upaya-upaya pencegahan suatu bencana, sebab kita sebagai manusia hanya bisa berusaha, dan berdo’a. Allah tetap akan melihat bagaimana usaha dari seorang hambanya karena “Sesungguhnya Allah Tidak Akan Mengubah Keadaan Suatu Kaum, Sebelum Kaum Itu Sendiri Mengubah Apa Yang Ada Pada Diri Mereka”. Dan jangan lupa bahwa Allah memiliki sifat Kodrat sehingga kita tidak bisa memaksa Allah agar sesuai apa yang kita inginkan dan pikirkan.

Kab. Semarang, 27 Maret 2020