Peringatan Hari Santri Nasional dan Maulid Nabi Muhammad SAW

Kab. Semarang, EM Pers- Acara Peringatan Hari Santri Nasional dan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan tema Santri Sehat Indonesia Kuat yang diadakan di depan halaman Gedung Utama KH. Mahfud Ridwan, Senin (8/10/20) Malam.  Acara ini dimeriahkan oleh grub rebana Al Badar dan grup Seloso Kliwon (SK). Kegiatan ini dihadiri seluruh santri Edi Mancoro dan beberapa tamu undangan.

K. H Muhammad hanif, selaku pengasuh  Ponpes Edi Mancoro menyampaikan bahwa peringatan yang sangat dinanti-nanti seluruh umat islam di seluruh dunia yaitu hari kelahiran kanjeng nabi Muhammad SAW serta acara ini sekaligus memperingati hari santri nasional.

Acara ini dihadiri oleh K. Matrokhim, M. Pd sekaligus sebagai pemantik pada acara malam ini. Matrokhim menyampaikan bahwa kita harus mencintai nabi dengan cara mengikuti perilaku-perilakunya

“Mencintai Nabi harus nomor satu, dari kedua orangtua, bahkan orang yang sangat kalian cintai. Kita harus mencontoh perilaku kanjeng dan sebagai santri itu harus bisa mencontoh perilaku-perilaku kanjeng nabi,” ujarnya.

Acara ini ditutup dengan pembagian hadiah kepada para juara dalam rangka lomba hari santri nasional yang diadakan beberapa waktu yang lalu. (MDL/Red)

Sosialisasi Kepesantrenan Pondok Pesantren Edi Mancoro

Kab. Semarang, EM Pers- Pondok Pesantren Edi Mancoro (Ponpes Edi Mancoro) melaksanakan kegiatan sosialisasi kepesantrenan di Aula Utama Gedung K.H Mahfud Ridwan, Kamis (15/10/20) Malam.

Diadakan sosialisasi kepesantrenan ini bertujuan untuk mengenalkan kepada para santri baru tentang Ponpes Edi Mancoro. Pada awal kegiatan ada sambutan terlebih dahulu oleh K.H Muhamad Hanif selaku pengasuh Pondok Edi Mancoro.

Dalam sambutannya K.H Muhamad Hanif menjelaskan asal usul nama Ponpes Edi Mancoro.

“Pesantren ini menggunakan nama atau identitas Jawa, tidak ada kaitan dengan nama pahlawan atau tokoh wali. Ini sebagian dari mengangkat citra kearifan lokal,” ungkapnya.

Ia berharap Pesantren Edi Mancoro bisa mencerahkan dan mengedukasi masyarakat sesuai filosofi nama pesantren ini.

“Latar belakang memberikan nama Edi Mancoro berharap pesantren bisa mencerahkan masyarakat dan mengedukasi masyarakat, maka kita mempunyai semboyan khodimul ummah,” tambahnya.

Setelah acara sambutan dari pengasuh, dilanjutkan dengan perkenalan setiap lembaga yang ada di Ponpes Edi Mancoro. Pada sesi ini setiap lembaga mempresentasikan visi misi dan program kerja yang ada di lembaga tersebut. Adapun lembaga-lembaga tersebut diantaranya OSEM (Organisasi Santri Edi Mancoro), KDII (Kulliyatud Dirasah al-Islamiyyah wal-Ijtima’iyyah), MQ (Madrasatul Qur’an), TBB (Tarbiyatul Banin Wal Banat), Pers Edi Mancoro, Laziskaf Edi Mancoro, Tsurayya (Student Language Center), UPT Perpustakaan, MRI (Mahfud Ridwan Institute), KBIHU AL-QIRO(Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh), Koppontren (Koperasi Pondok Pesantren) dan Djitoe Photography.

Adi (20) salah satu santri baru merasa bahwa kegiatan sosialisasi kepesantrenan membuatnya paham sejarah dan lembaga-lembaga di Ponpes Edi Mancoro.

“Saya akhirnya mendapat banyak pengetahuan Pondok Pesantren Edi Mancoro, bagaimana paham arti filosofi nama Edi Mancoro dan mengetahui fungsi dari setiap lembaga di Edi Mancoro,” tuturnya. (Dimas/Red)

Haflah Akhirussanah, Khotmil Qur’an dan Haul Al Maghfurlah K.H Mahfud Ridwan Ke-3 Pondok Pesantren Edi mancoro

Kab. Semarang, EM Pers- Acara Haflah Akhirussanah, Khotmil Qur’an dan Haul Al Maghfurlah K.H Mahfud Ridwan Ke-3 Pondok Pesantren (Ponpes) Edi mancoro dilaksanakan di depan halaman Gedung Utama KH. Mahfud Ridwan, Minggu (27/9/20) Malam. Acara ini juga disiarkan langsung melalui channel Youtube Edi Mancoro.

Pada acara kali ini bersifat tertutup dibuktikan hanya dihadiri oleh seluruh santri dan tamu undangan saja. Sebelum memasuki tempat acara diadakan pengecekan suhu dan penyemprotan hand sanitizer terlebih dahulu serta diwajibkan untuk memakai masker bagi para santri dan tamu undangan.

Acara ini diikuti oleh 126 peserta meliputi, peserta bin nadhor 30 juz yang berjumlah 44 santri , peserta bil ghoib juz 30 yang berjumah 72 santri, dan peserta bil ghoib 30 juz yang berjumlah 10 santri.

Alamul Huda selaku perwakilan wali santri mengucapkan banyak terimakasih kepada pengasuh Ponpes Edi Mancoro yang sudah merawat dan menyempatkan waktu membimbing para santri.

“Saya selaku perwakilan wali santri tidak bisa memberi apa-apa hanya dapat mengucapkan jazakumullah ahsanal jaza dan semoga santri putra dan santri putri menjadi berbakti kepada kedua orangtua dan sholih sholihah“, tambahnya.

KH. Muhamad Hanif selalu pengasuh Ponpes Edi Mancoro dalam sambutannya mengatakan, “Yang seharusnya khataman ini dilakukan pada tanggal 3 April diundur sampai sekarang, karena situasi yang tidak memungkinkan. Dalam hal ini yang asalnya khotimat bil ghoib 30 juz hanya 4 orang, menjadi 10 orang,” ungkapnya.

Pada acara kali ini terdapat sedikit kendala dalam cuaca yang mengakibatkan pelaksanaan acara sedikit terhambat namun tidak menyurutkan semangat para santri dalam mengikuti acara.

Muhammad Lukman Hakim (20) selalu panitia acara menyampaikan acara kali ini berjalan lancar walaupun sedikit terkendala hujan di awal acara.

“Alhamdulillah acara kali ini berjalan lancar walaupun sedikit terkendala molor setengah jam dikarenakan turun hujan, tapi di tengah acara itu bisa disesuaikan dengan jadwal sesuai rencana,” ujarnya. (Mira, Dimas, Lu’lu/Red)

 

Sima’an Khataman 30 Juz Bil Ghoib di Pondok Pesantren Edi Mancoro

Kab.semarang, EM Pers- Pondok Pesantren (Ponpes) Edi Mancoro adakan sima’an peserta khataman 30 juz bil ghoib di Gedung Utama K.H Mahfud Ridwan, Jum’at (11/9/20) Siang. Sima’an khataman ini dilaksanakan secara maraton selama dua hari.

Sebelum acara dimulai, ada sedikit sambutan terlebih dahulu dari K.H Muhamad Hanif selaku pengasuh Ponpes Edi Mancoro. Ia menyampaikan bahwa anak kecil lebih mudah menghafal Al-Qur’an daripada orang dewasa.

“Anak kecil lebih mudah menghafal Al-Qur’an daripada orang dewasa karena anak kecil lebih mudah meniru apapun yang diucapkan sebagaimana para sahabat meniru apa yang diucapkan Nabi Muhammad SAW,” ungkapnya.

Dengan adanya sima’an kali ini, ia berharap khatimin dan khatimat Al-Qur’an bisa menjaga hafalannya, karena menurutnya menjaga lebih sulit daripada menghafal.

“Sima’an 30 juz agar hafalan bisa terikat. Supaya lebih meningkat apa yang kamu hafalkan, karena menjaganya jauh lebih sulit dibandingkan menghafalkannya,” tambahnya.

Sima’an kali ini diikuti oleh sepuluh khatimin dan khatimat yaitu, Ilya Mahmudah,  Siti Jamilah Kholifah, Ma’rifatul Fadhilah, Siti Nurul Faizah, Fida Munawaroh, Mohamad Al Jasim, Ismi Farihatul Wahidah, Mauizhotun Nafi’ah, Risydiana Tsani dan Umi Sa’adatul Maulidia.

Andi Saputra (21) selalu Ketua Panitia Khataman menyampaikan, acara khataman kali ini berjalan dengan lancar tanpa suatu halangan apapun.

“Acara khataman kali ini berjalan dengan khidmat dan lancar meskipun acara internal tanpa mengundang tamu dari luar, dan saya berharap para khatimin dan khatimat Al-Qur’an bisa menjadi ahlul quran semua,” pungkasnya. (Mira, Dimas, Lu’lu/Red)

Bulan Muharram dalam Budaya Jawa

Kab. Semarang EM Pers- Acara Dzikir Ajeg Seloso Kliwon dalam rangka menyambut tahun baru Islam 1442 H di halaman Gedung K.H Mahfud Ridwan, Senin (31/8/2020) Malam.

Acara Dzikir Ajeg seloso Kliwon kali ini mengusung tema yaitu “Muharram dalam Perspektif Budaya Jawa”. Kegiatan rutinan ini tidak hanya dihadiri oleh seluruh santri Pondok Pesantren Edi Mancoro (Ponpes Edi Mancoro) saja, tetapi ada beberapa tamu undangan dan anak-anak penerima santunan dari Lembaga Amil Zakat Infaq Sedekah dan Wakaf (Laziskaf).

Sebelum acara dimulai, ada sedikit sambutan terlebih dahulu dari K.H Muhamad Hanif selaku pengasuh Ponpes Edi Mancoro serta dimeriahkan oleh penampilan grup musik Seloso Kliwon (SK). Pada kesempatan kali ini dihadiri oleh dua pemateri yaitu, Ahmad Faidi dan Ahmad Dimyati.

Ahmad Faidi dan Ahmad Dimyati saat memaparkan materi di Ponpes Edi Mancoro

Ahmad Dimyati menyampaikan hendaknya ketika bulan Muharram kita lebih berdiam diri dan meninggalkan duniawi.

“Berdiam diri bukan berarti tidak berbuat apa-apa, akan tetapi merenungi kekuasaan Allah yang menjadikan kita merasa sangat kecil dimata-Nya dan meninggalkan duniawi bukan berarti pasrah untuk kehidupan duniawi tetapi membatasi sesuatu yang sekiranya tidak terlalu dibutuhkan,” ungkapnya.

Ahmad Faidi menyampaikan bahwa orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang percaya pada hal yang gaib.

“Sebenarnya jika kita mau mengeksploitasi sedalam-dalamnya kebudayaan yang kita miliki adalah rasional, karena tidak ada satupun yang tidak rasional. Hal itu cara Allah untuk memberi pemahaman hambanya yang telah dikasih potensi akal,” ujarnya. (Mira, Dimas, Lu’lu/Red)

Sambut Bulan Muharram, Lazizkaf adakan Santunan Anak Yatim Piatu

Kab. Semarang, EM Pers- Bulan Muharrom identik dengan momentum meningkatkan ketaqwaan diri kepada Allah SWT, salah satunya menyantuni anak yatim. Dalam momentum emas ini Lembaga Amil Zakat Infaq Sedekah dan Wakaf (Laziskaf) Edi Mancoro menyantuni 23 anak yatim piatu di Desa Gedangan. Acara ini digelar bersamaan dengan Dzikir Ajeg Seloso Kliwon, pada Senin (31/8/2020) di depan Gedung K.H Mahfud Ridwan Pondok Pesantren Edi Mancoro.

Menurut keterangan Isnaniyah (22) selaku Ketua Lazizkaf, data muzakki didapatkan dari Kepala Dusun (Kadus) di Desa Gedangan. Isna juga berharap “Datanya itu kita minta dari Kadus dari setiap dusun di  Desa Gedangan,” jelasnya. Isna juga berharap semoga dengan santunan ini, dapat dan memberikan manfaat bagi mereka.

Dalam sambutannya, K.H Muhammad Hanif berterima kasih kepada para santri yang sudah ikut menyisihkan sebagian uang sakunya untuk para yatim piatu. “Terima kasih para santri yang ikut menyisihkan sebagian sakunya untuk bersama-sama berbagi dengan para aitam. Karena salah satu sunnah yang baik pada bulan muharram ini adalah berbagi dengan para aitam dan para duafa, sehingga InsyaAllah kita akan disayangi oleh Allah SWT,” ungkapnya.

Salah satu muzakki, Rosa (12) yang kebetulan juga salah satu siswa SDN 1 Gedangan bercerita datang bersama 4 temannya dengan rasa syukur dan bahagia. Hal itu dibuktikan dengan mereka sudah datang sebelum acara dimulai. (Anik/Red)  

Upacara Bendera Memperingati HUT RI ke-75

Kab. Semarang, EM Pers- Upacara bendera sebagai bentuk Peringatan HUT RI ke-75 yang diadakan oleh Pondok Pesantren Edi mancoro secara khidmat dan tetap memakai masker bagi para peserta upacara, kegiatan ini dimeriahkan oleh variasi paskibra santri putri yang dilaksanakan di depan Aula Gedung Utama Pondok Pesantren Edi Mancoro, (17/8/20) Pagi.

Upacara bendera kali ini sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya yang biasanya dihadiri oleh warga sekitar tetapi kali ini hanya dihadiri oleh seluruh santri Pondok Pesantren Edi Mancoro.

Sebelum acara dimulai para petugas upacara melakukan gladi bersih yang dikoreksi langsung oleh Pengasuh.

Muhamad Hanif selaku pembina upacara menyampaikan bahwa, kedisiplinan adalah suatu kunci kesuksesan baik hari ini, esok dan masa depan sebagaiman yang dilakukan oleh para petugas upacara dengan keserasian dan kekompakan mereka agar terciptanya kesempurnaan hasil. Beliau berharap semoga kita menjadi orang yang lebih baik lagi kedepannya serta mempersiapkan diri menghadapi permasalahan masa depan untuk Indonesia yang sentosa.

Sebelum Upacara dibubarkan ada sedikit penampilan dari  paskibra santri putri Edi Mancoro yang berupa yel-yel dan variasi yag sangat menarik. Para peserta terkagum dan memberikan tepuk tangan meriahuntuk pertunjukan itu. (Mira, Lu’lu/Red)

Tirakat Santri Untuk Negeri

Kab. Semarang, EM Pers– Kegiatan  malam tirakatan dalam rangka memperingati 75 tahun Kemerdekaan Indonesia dengan mengusung tema “Santri Bisa Indonesia Sentosa”. Kegiatan ini dilaksanakan di depan Aula Gedung Utama Pondok Pesantren Edi Mancoro, Minggu (16/8/20) Malam. Kegiatan ini dibuka dengan penampilan grup sholawat Al badar dan pembacaan Istighosah sebagai bentuk tirakat santri untuk negeri.

Kegiatan kali ini sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya yang dimana bisa dihadiri oleh warga sekitar, tetapi kali ini hanya bisa dihadiri oleh seluruh santri saja. Walaupun bersifat tertutup, acara ini berlangsung dengan lancar dan tertib serta tidak menyurutkan semangat para santri pada malam hari ini.

KH. Muhamad Hanif,  Pengasuh Ponpes Edi Mancoro menyampaikan, negara Indonesia adalah negara yang terbentuk karena kesepakatan bersama. Ia juga berkata bahwa acara ini penting bagi kita untuk mengingat sejarah bangsa.

“Malam tujuh belasan ini memang penting bagi kita untuk mengingat sejarah bangsa,  yang bisa membuka cakrawala kita tentang sejarah berdirinya bangsa ini. Maka tidak salah kalo kita ini merasa paling berhak dan paling layak dalam konteks mengatakan NKRI harga mati,” Ungkapnya.

Ia berharap dengan ada acara ini bisa menjadikan para santri sebagai orang yang berpegang pada prinsip khodimul ummah.

“Semoga kita mampu menjadi orang yang berpegang pada prinsip khodimul ummah sebagaimana yang dicita-citakan oleh pendiri Ponpes Edi Mancoro yang kita cintai Almagfurlah KH. Mahfud Ridwan,” Tambahnya.

Dalam acara malam ini, Ponpes Edi Mancoro kedatangan seorang penulis buku yang bernama Ahmad Faidi dengan judul bukunya “Teosofi Soekarno dan Pancasila”. Dalam kesempatan kali ini ia sedikit menjelaskan isi bukunya. Para santri sangat antusias mengikuti acara bedah buku ini dengan adanya sesi tanya jawab yang diberikan moderator kepada para santri untuk menyampaikan rasa ingin tahu pada buku tersebut.(Mira, Dimas, Lu’lu/Red)

Bantuan APD Sebagai Wujud Kepedulian Sosial

EM Pers, Kab. Semarang- Penyerahan APD oleh Petugas Puskesmas yang didatangani bupati Kabupaten Semarang kepada beberapa Pondok Pesantren yang dinaungi oleh Puskesmas Gedangan, Selasa (11/08/2020) yang dilaksanakan sesuai protokol kesehatan. Hal ini dapat dilihat dari para tokoh pemerintah, santri dan panitia yang memakai masker dan disediakannya cuci tangan sebelum masuk ruangan.

Mundjirin selaku bupati Kabupaten Semarang mengatakan bahwa dalam proses penyerahan APD yang bertempat di Pondok Pesantren Edi mancoro ini sudah dilaksanakan sesuai protokol kesehatan, harapannya semoga hal ini tidak hanya diterapkan saat dalam kegiatan ini saja melainkan bisa diterapkan setiap harinya.

Ia berpesan pada semua masyarakat khususnya santri untuk tetap menaati protokol kesehatan. “Walaupun dalam lingkungan pondok pesantren yang tak luput dari yang namanya berkerumuan, mulai dari beribadah dengan tetap berjaga jarak, tidak bersalaman dan tetap mengenakan masker saat akan keluar pondok,” jelasnya.

Yulianti selaku Ketua Puskesmas Gedangan “Bahwa dimana saja kita harus menerapkan protokol kesehatan, pakai masker, cuci tangan dengan sabun, jaga jarak, jaga kesehatan agar imun selalu baik, istirahat cukup dan makan-makanan yang sehat,” ungkapnya.

Masyarakat mungkin banyak yang sudah paham namun ada juga yang belum dengan adanya new normal menganggap aktivitas mulai aktif padahal masyarakat harus tetap melakukan new normal beradaptasi dengan lingkungan baru,” tambahnya.

“Bantuan APD ini didistribusikan ke 26 Puskesmas yang ada di Kabupaten Semarang yang salah satunya di Gedangan,” ujar panitia acara dan juga Ketua Puskesmas

Nita Dwi Yanti (20) mengatakan “Saya sangat apreasiasi sekali dengan penyerahan bantuannya karena ini sangat membantu dan bermanfaat bagi santri-santri yang ada dinaungan dinas kesehatan Gedangan,”  ujar santri dari pondok Al Isti’anah

Dia juga menambahkan “Bahwa sebagai santri juga harus tetap menjaga protokol kesehatan seperti, cuci tangan, keluar pakai masker sampai makan pun memakai alat makan pribadi,” jelasnya. (Mira, Dimas, Lu’lu/Red)

Kurban Sebagai Wujud Kepekaan Sosial

EM Pers, Kab. Semarang- Pelaksanaan solat Ied dan penyembelihan hewan kurban di Masjid Darussalam, Desa Gedangan, Jum’at (31/7/2020) Pagi, dilaksanakan sesuai protokol kesehatan. Hal ini bisa dilihat dari masyarakat yang diwajiban mengenakan masker dan disediakannya tempat cuci tangan, serta pengecekan suhu tubuh bagi para jamaah sebelum memasuki masjid.

Sa’idah Nurul Jannah(19) mengatakan “Idhul Adha tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya bersalaman, kali ini tidak. Karena, sebagai bentuk taat kepada peraturan protokol kesehatan,” ujar santri asal Pati ini.

Dalam khutbahnya, Mulyadi menyampaikan, bahwa amalan yang paling dianjurkan di bulan Dzulhijjah adalah haji dan berkurban. Namun, dikarenakan adanya pandemi, ibadah haji  dan kurban kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Ibadah haji hanya diperkenankan bagi orang-orang Arab saja, dan itupun dengan pembatasan jumlah dan peraturan yang sangat ketat. Sedangkan, penyembelihan dan pendistribusian kurban pun harus dilaksanakan sesuai protokol yang ditetapkan pemerintah.

Dia juga menjelaskan bahwa di setiap ketetapan Allah, pasti ada hikmah di baliknya. Tertundanya pemberangkatan haji, mengajarkan kita kesabaran dan kepasrahan diri kepadanya-Nya. Lalu, ibadah kurban juga menjadi bukti kepekaan sosial masyarakat mampu terhadap yang kurang mampu.

“Ada banyak sekali hikmah yang kita dapatkan dalam berkurban di masa pandemi ini. Hikmah vertikalnya yakni suatu bentuk kedekatan kita kepada Allah SWT dan hikmah horizontalnya yakni suatu kedekatan kita kepada sesama manusia untuk saling berbagi,” jelasnya.

Tahun ini, Masjid Darussalam menyembelih 15 hewan kurban, antara lain 8 ekor sapi dan 7 ekor kambing. Serta 6 ekor kambing sebagai aqiqah dari beberapa warga Dusun Bandungan. Jumlah ini meningkat dibanding tahun sebelumnya, “Menurut saya, dengan adanya pandemi ini, masyarakat jadi lebih sadar untuk berbagi. Salah satu wujudnya adalah berkurban,” papar Mulyadi, yang juga sebagai Ketua Panitia Kurban. (Mira, Dimas, Lu’lu/Red)